Web capture_23-11-2020_161318_www.google.com

Jika kamu telah berkecimpung di dunia bisnis atau baru ingin memulai bisnis, maka tidak ada salahnya untuk berhati-hati dengan jebakan-jebakan yang ada di dalam dunia bisnis. Apa saja perangkap/jebakan itu? Yuk, kita simak!

  1. Success Trap

Ini adalah perangkap yang dialami oleh perusahaan yang merasa cukup dengan kesuksesannya di masa lalu. Success trap adalah perangkap yang paling berbahaya dalam dunia bisnis. Rhenald Kasali dalam bukunya yang berjudul “Tomorrow is Today” memberikan contoh nyata dari perusahaan yang mengalami success trap ini, yaitu salah satu perusahaan otomotif di Amerika Serikat, Chrysler. Selain Chrysler, terdapat perusahaan-perusahaan lainnya yang terjerembab dalam perangkat ini yaitu, Circuit City (gerai ritel elektornik kedua terbesar di AS setelah Best Buy), perusahaan penerbangan PanAm, dan jaringan toko buku Borders.

“Bagian paling berbahaya dari setiap bisnis adalah kesuksesan. Kesuksesan menghasilkan kepuasan. Kesusksesan mengubah Anda dari orang yang siap berkarya menjadi orang yang siap menikmati” – Lior Arussy, Pendiri Strativity Group.

  1. Competency Trap

Jebakan kompetensi akan dialami oleh perusahaan yang merasa cukup dengan kemampuan yang dimilikinya, tanpa berusaha mengembangkannya. Contoh nyata perusahaan yang telah terjebak competency trap ini adalah mesin pencaharian yang terkenal di era 1990 hingga 2000-an, Yahoo. Yahoo pernah menapaki masa-masa keemasan ketika valuasi perusahaannya mencapai US$125 miliar pada tahun 2000. Penyumbang terbesar keuntungan Yahoo berasal dari iklan banner. Merasa sudah memiliki keahlian di iklan banner, Yahoo memilih untuk mengeksploitasi bisnis yang telah membesarkannya. Pada saat yang sama, perusahaan ini abai mengembangkan mesin pencari serta bisnis-bisnis digital lain yang sukses belakangan.

Pada 2002, Yahoo sebenarnya pernah memiliki kesempatan untuk mencaplok Google. Sergey Brin dan Larry Page (pendiri Google) menawarkan Google ke Yahoo dengan harga US$3 miliar, namun pihak manajemen Yahoo menolak. Daaan… dampaknya fatal. Bisnis mesin pencari Google terus berkembang. Valuasi Google berhasil melampaui Yahoo.

Kompetensi adalah kemampuan yang dimiliki perusahaan, baik dalam mengelola proses bisnis atau menghasilkan produk atau jasa. Perusahaan biasanya akan mulai mengumpulkan pengalaman-pengalaman yang terkait dengan kompetensi yang dimilikinya. Pada saat yang sama, mereka lalai sehingga tidak mencoba mengeksplorasi kompetensi di luar dari kemampuan mereka. Akibatnya, ketika terjadi perubahan, perusahaan akan merespons dengan cara-cara yang selama ini mereka ketahui.

Hasilnya adalah respons yang gagal. Sebab, langkah-langkah yang mereka tempuh sudah tidak relevan lagi dengan perubahan yang terjadi. Perusahaan sudah tidak adaptif lagi dalam mengelola perubahan (Levitt dan March, 1988 dalam Rhenald Kasali, 2018).

  1. Sunk-cost Trap

Jebakan ini sama dengan saat kita menonton bioskop yang ternyata filmnya tidak sebagus ekspektasi kita, namun kita tetap menontonnya dengan alasan: sudah terlanjur membeli tiket. Nah, biasanya pebisnis yang terjerat dengan jebakan ini adalah pebisnis yang sudah rugi namun tetap melanjutkan kerugiannya dengan dalih: sudah keluar modal banyak dan investasi. Hal yang harus dilakukan pebisnis ketika ia menyadari adanya masalah atau kerugian, maka ia harus “banting stir”, putar pikiran, tarik keputusan, berani mengambil solusi untuk menghadapi masalah dan perubahan.

  1. Blame Trap

Banyak perusahaan yang jika terdapat masalah, langkah pertama yang diambil adalah mencari siapa pelakunya. Menuduh sana-sini. Mencari siapa yang harus disalahkan. Daripada mencari-cari siapa yang harus disalahkan, alangkah baiknya mencari solusi untuk perbaikan atau mengatasi masalah tersebut demi keberlanjutan perusahaan.

  1. Cannibalization Trap

Saat sebuah perusahaan mengeluarkan produk ke-2, kemudian produk ke-2 menggerus produk pertama, biasanya perusahaan akan takut kehilangan produk pertama. Sehingga, jika hal itu (ketakutan itu) terjadi dan membuat perusahaan enggan mengeluarkan produk ke-2, maka perusahaan tersebut telah terjebak ke dalam cannibalization trap. Contoh kasus perusahaan yang terdampak cannibalization trap yang dijabarkan oleh Rhenald Kasali dalam bukunya adalah perusahaan Kodak.

  1. Confirmation Trap

Ini adalah sebuah kondisi ketika korporasi berusaha untuk membenarkan sikap atau pilihan bisnisnya dengan cara meminta konfirmasi pihak lain. Namun, banyak perusahaan melakukan konfirmasi lantaran kurang percaya diri atau untuk tujuan-tujuan yang lain. Misalnya, perusahaan mengundang konsultan atau peneliti yang tujuannya untuk memberi “stempel” pembenaran atas kejadian negatif yang menimpa perusahaan. Penjualan turun, pabrik salah urus, mesin salah beli, proses bisnis keliru dan seterusnya. Semua bisa dicari pembenarannya.

Sesekali mungkin bisa saja. Namun, jika setiap langkah perusahaan selalu melakukan konfirmasi, apalagi kalau langkahnya tak terlalu strategis, maka perusahaan tersebut dapat dikatakan telah masuk dalam perangkap confirmation trap.

Menarik untuk Dibagi?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Offer

Peluang Bisnis Barbershop

Bikin Brand-mu Sendiri!

Marketplace Mastery

Bersama Weliyan Tanoyo