guilherme-stecanella-EefsBN5B5GE-unsplash

Saya pernah punya sebuah bisnis, dan dalam 2-3 tahun bisnis berjalan, lebih sering makan nasi bungkus 5rb berdua dengan istri. Kami menjalaninya dengan semangat dan pengetahuan bisnis yang kami punya.

Namun, ternyata tiga tahun berjalan, semangat saja nggak cukup. Pengetahuan ternyata juga masih jauh panggang dari api, apalagi, banyak update yang kami mungkin nggak begitu ngerti. Yang paling buruk, resources juga habis.

Saya kemudian berpikir, dalam kurun 3 tahun tersebut apa yang membuat saya tetap percaya bahwa bisnis ini akan dapat bertumbuh? Hal yang saya ingat pertama kali adalah, saat saya masih duduk di bangku sekolah menengah, medio 2008-2009. Perasaan waktu itu berapi-api dan campur aduk, karena saya seperti menemukan jalan: yaitu menjadi pengusaha.

Ya, mimpi besar itu yang jadi pegangan. Saya bisa membuka lapangan kerja (yang katanya sulit dicari), membantu pemerintah yang katanya kesulitan juga untuk menambah lapangan kerja.

Tapi ya mimpi nggak dibarengi pondasi yang bagus, tetap saja memble, hehe. Namun, poin saya adalah bagaimana pentingnya seorang pengusaha untuk selalu berpikir besar.

Pivot Bisnis

Era pandemi saat ini tentu saja memaksa sebagian besar pengusaha jadi menilai kembali: seberapa penting, sih, kehadiran mereka? Wong daya beli turun, resesi sudah mencetak brace , lha dari mana arus pendapatan bisa datang kalau konsumsi turun? Tentu saja kita nggak bisa menyalahkan pilihan konsumen untuk menabung. Dampaknya yang sangat luas ke berbagai wilayah, tak terkecuali Indonesia.

Tetapi, sebelum berputus asa, perlu renungkan sedikit bahwa bagaimanapun, perekonomian di grass root pasti akan tetap berjalan. Pemerintah dan berbagai organisasi mungkin juga menyiapkan paket-paket penguatan ekonomi agar sesuai dengan daya beli masyarakat. Berbagai aktivitas baru muncul dan di situ terdapat peluang.

Peluang ini tidak hanya dilihat sebagai potensi cuan semata, namun, bagaimana kita bisa berkontribusi di dalamnya, sehingga aktivitas masyarakat betul-betul dapat terbantu. Dua alasan ini mungkin sangat cukup untuk dijadikan sebuah pemikiran besar, bahwa bisnis bukan melulu cuan. Berputarnya ekonomi, naiknya daya beli, terbantunya aktivitas masyarakat, menjadi nilai yang lebih penting untuk ditanamkan.

Tentu saja, mungkin ketika mengikuti pergerakan pasar pasti akan menimbulkan kegaduhan internal. Tetapi tidak ada salahnya untuk melakukan pivot bisnis menyesuaikan situasi yang sedang terjadi. Mengapa? Karena kita telah menemukan alasan yang lebih penting, dari sekadar “menjaring cuan” dari target market kita.

Maka, apapun bentuknya, ketika alasan tersebut sudah terpenuhi, pasti bisnis akan tetap berjalan. Itulah yang selayaknya diperjuangkan. Jangan sampai bisnis sebagai alat justru dilihat sebagai tujuan: jika kolaps, apalagi yang mau dituju?

Menarik untuk Dibagi?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Offer

Peluang Bisnis Barbershop

Bikin Brand-mu Sendiri!

Marketplace Mastery

Bersama Weliyan Tanoyo