WhatsApp Image 2020-10-31 at 11.36.58 AM

Mari kita berkumpul, sesama pembeli yang ditawarin pulsa di kasir minimarket.

Pada akhirnya yang terakhir saya tahu, salah satu minimarket dekat rumah saya terlihat “mengalah” dengan menampilkan daftar harga pulsa di depan kasir: daripada nawarin gak ada yang beli juga, ye kan?

Namun, ini semua membuktikan premis yang pernah saya bahas di tulisan sebelumnya: Penting untuk memahami temperatur dan audience environment sebelum nawarin barang. Pelanggan yang datang ke minimarket adalah hot audience untuk produk yang sedang dicarinya, namun cold audience atau setidaknya warm bagi produk isi ulang pulsa (meski tetap beda perlakuan).

Kalau kita recall lagi cerita tentang skincare yang ditawarkan di jalanan, sekali lagi, situasi ini mirip di media sosial. Jenis informasi dalam environment tersebut adalah interrupting information, dalam hal ini spesifik pada iklan. Jenis ini jamak digunakan di media lainnya, seperti radio, televisi, atau majalah. Apa tujuan orang mengakses suatu media informasi? Tujuannya tentu saja mendapat informasi yang diinginkannya. Jadi, saat tiba-tiba ditodong suatu penawaran, dia tidak hanya harus kuat mengalihkan perhatian tetapi juga relevan terhadap pembaca.

Mengapa relevansi diperlukan? Analoginya begini: orang berselancar dalam suatu platform karena mencari suatu informasi yang dibutuhkannya. Berarti, saat informasi tersebut didapatkan, informasi tersebut relevan. Proses mendapatkan informasi tersebut dilakukan secara ‘sadar’. Saat dalam keadaan sadar, manusia tidak suka diinterupsi perhatiannya.

Itulah mengapa penting memahami alam bawah sadar: Saat memproses suatu iklan atau informasi yang ingin kita tawarkan, kita perlu tahu dulu “kebiasaan” target audience. Kebiasaan ini akan berkaitan erat dengan ‘alam bawah sadar’. Perlu diingat, informasi kita masih harus bersaing dengan informasi kompetitor. Jadi, semakin erat relevansi informasi kita dengan kebiasaan audience (dari sisi konten dan visualnya) dengan audience, secara ‘tidak sadar’ audience akan tertarik dengan sendirinya dan engage dengan informasi kita. Tanpa harus memaksakan penawaran. Inilah softselling.

Kita kembalikan kasus penawaran pulsa di minimarket tadi: lalu lintas orang dalam minimarket sangat beragam dan datang dari berbagai latar belakang. Maka, apa yang ditawarkan harus berlandaskan pada isu-isu yang jamak dicari, dan menginterupsi secara halus lalu lintasnya. Beberapa di antara isu yang jamak dicari adalah pelayanan yang cepat, ramah, dan nyaman. Isu ini bisa ditampilkan dengan poster, dan copywriting yang tepat mengekspresikan ketiga isu tersebut.

Misalnya: memanfaatkan aplikasi smarpthone minimarket tersebut, beli pulsa/paket data tinggal klik dan bisa bayar offline. Hal ini akan jadi keunggulan utama dibanding kompetitor e-wallet yang tidak memiliki cabang offline.

Belajar Lagi

Tidak jarang para pebisnis offline yang saat ini shifting ke platform online menjadi silau dengan berbagai tools untuk melakukan digital marketing, termasuk di antaranya penggunaan media sosial. Semua cara yang tampaknya sedang trending akan dicoba, tanpa melihat relevansinya dengan target market. Nggak ada salahnya kita pelajari lagi konsep dasar untuk dapat diaplikasikan di berbagai platform bisnis, agar senantiasa fleksibel. Semoga menginspirasi untuk terus belajar!

Menarik untuk Dibagi?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Offer

Peluang Bisnis Barbershop

Bikin Brand-mu Sendiri!

Marketplace Mastery

Bersama Weliyan Tanoyo