man grabbing a fish

Menghadirkan produk yang hendak dijual kepada target market yang dituju, adalah tugasnya marketer atau pemasar. Target market akan diriset berbagai hal, mulai dari: kebiasaan, pekerjaan, lingkungan tempat tinggal, bisa jadi postingan-postingan di media sosialnya.

Tibalah waktu marketer mengolah konten kreatif untuk memasarkan produknya. Dengan berbagai cara yang dianggap menarik dan kekinian. Segala sumber daya digunakan dan saat telah selesai, mulailah launching.

Beberapa hari kemudian, terdapat komentar muncul di media sosial:

Halah, gimmick!”

Ngapusi!”

Opo iyo…

Norak!

Puk-puk, kak… hehe..

Nyatanya, memang profesi seorang marketer, atau sekaligus salesman di dalamnya, adalah pekerjaan yang hanya sedikit orang mempercayainya.

Di tahun 2017 pernah diadakan kembali survey serupa oleh “4As” Chief Marketing Officer Alison Fahey bekerja sama dengan Ipsos OTX, tentang profesi apa yang paling dipercayai. Ya hasilnya masih nggak beda jauh.

Kenapa, ya?

Akumulasi Bertahun-Tahun

Kurangnya kepercayaan ini sudah dibangun bertahun-tahun, akumulasi sejak departemen pengiklan dan pemasaran mulai membuat cerita fiksi tentang produk mereka, dan membuat persona untuk menggambarkan keunggulan produk.

Lha, semakin terbukanya media dewasa ini, dan semakin mudahnya akses informasi ke segala sesuatu dengan Internet, konsumen jadi ngerti trik yang digunakan oleh pemasar. Ya sebut saja: kenapa rumah makan brand besar mayoritas menggunakan merah? Kenapa saat kasir ngobrol dengan konsumen, diminta menggunakan panggilan “kak”? Kenapa ada menu minuman yang dibikin tiga jenis size? Konten-konten seperti ini dapat dengan mudah diakses, bahkan oleh konsumen itu sendiri.

Ya, jadinya, konsumen lebih “tercerahkan” hehe.

Lalu Apakah Itu Hal yang Buruk?

Ya enggak juga. Justru dengan kondisi konsumen yang telah “tercerahkan”, sudah saatnya pemasar sadar betul gimana benefit produk disampaikan secara baik dan benar. Mungkin sudah enggak jamannya pakai slogan dan tagline usang, kalau ujungnya cuma jadi dekorasi di logo website atau buat bagus-bagusan kartu nama (masih jaman ya?).

Mungkin juga saatnya meninggalkan “psikologi warna” yang berlebihan. Mentang-mentang yang mau dipasarkan adalah restoran, tempat jualannya dicat merah semua. Sak kasire dicat abang!. *Misalnya..

Apakah kamu sering pakai klaim omong kosong dan berlebihan juga? Itu juga pangkal dari “kebencian” terhadap marketer. Kalau mau nawarin pemutih wajah, tidak perlu bilang “Bakal Memutihkan Wajah Kamu dalam 1 menit Saja!”.

Kayak type-X saja.

Berbenah

Coba cek ads policy dari Facebook, ada seabreg kebijakan yang harus dipatuhi sebelum iklan bisa tayang. Bisa untuk pegangan tuh, sebab, sebagai platform bermedia sosial, metode beriklan dalam Facebook disebut sebagai interrupted ads.

Interrupted Ads adalah iklan yang bakal muncul ketika pengguna media sosial sedang asyik nyecroll misal: konten lucu, postingan selebgram, atau temen yang plesiran. Lha lagi asyik nyecroll kok ditawarin iklan. Kayak lagi jalan di gang rak swalayan tiba-tiba dicegat salesman. Kan jadi terganggu.

Etika dan standar mungkin berbeda. Makanya, tidak PHP dengan benefit dan (tentu saja) membenahi cara menyampaikan benefit adalah kunci. Jangan sampai karena egois dan overproud dengan produk, kita lupa siapa yang bakal memakai produk kita setelah beli: Konsumen.

Menarik untuk Dibagi?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Offer

Peluang Bisnis Barbershop

Bikin Brand-mu Sendiri!

Marketplace Mastery

Bersama Weliyan Tanoyo