krakenimages-376KN_ISplE-unsplash

Saya sering mendengar percakapan yang mengeluhkan betapa banyaknya UMKM yang punya produk bagus, tetapi ndak punya pemasaran yang baik. Eman-eman, katanya. Sudah bagus-bagus membuat produk, kok hanya dijual ala kadarnya.

Kemudian, dibantulah pelaku UMKM ini agar produknya dapat terdistribusi dan dikenal lebih luas. Tetapi, di bagian inilah yang sering missed: sudah bagus, naik daun, ternyata produksi nggak bisa ngejar!

Kualitas mulai kacau, komplain mulai berdatangan, tenaga produksi selalu tertekan. Apalagi ya?

Dilema

Mencari titik keseimbangan memang yang paling menantang. Banyak yang bisa menahan atau mendorong secara ekstrim suatu perjalanan bisnis. Dengan kata lain, yang memaintain perjalanan agar terus relevan dengan berbagai kondisi ini menjadi tantangan selamanya.

Kalau kata Pak Yoyok Rubiantono, mau sebagus apapun cara ngejualinnya, kalau produknya memang lemah, ya hasilnya tetap akan lemah. Bukan bicara tentang unik tidaknya, tetapi bagaimana benefit produk betul terasa seperti yang dijanjikan.

Makanya, pemasar akan lebih mudah memasarkan produk yang sudah winning. Namun, implikasi dari dorongan memasarkan jarang diantisipasi, seperti membludaknya permintaan. Bagaimana mengantisipasi hal ini?

Scale Up your Manufacturing Process

  1. Konsep Produk
    • Coba deskripsikan produk dari sudut pandang pelanggan. Apakah harganya realistis dibanding kompetitor? Adakah rencana strategis ke depan tentang produknya? Adakah tempat di market untuk produknya? Gimana impact dari market, terhadap proses distribusi dan stok produk? Apa tujuan komersialnya: sales, balik modal, atau untuk keperluan marketing?
  2. Analisis Alur Produksi
    • Analisis bagaimana kondisi produksi dengan proses yang dimiliki saat ini. Dari memperoleh bahan mentah, sampai pengolahan limbahnya.
  3. Studi Kapasitas
    • Bagaimana supaya tujuan marketing selalu selaras dengan kapasitas produksi? Kapan harus ngepush, kapan harus tarik rem. Kapan bisa ditambah kapasitasnya, kapan justru harus dikurangi kapasitasnya?
  4. Pemetaan Kapasitas dengan Prosesnya
    • Apakah proses produksi sudah sesuai dengan kapasitas yang dimiliki? Pemetaan dilakukan untuk melihat hal ini.
  5. Pemetaan Peralatan
    • Peralatan mungkin nggak harus baru, tetapi apa yang paling fit untuk tujuan marketing maupun produksi adalah hal yang utama.
  6. Pemetaan Biaya
    • Apa saja yang terlibat dalam proses produksi tersebut, sehingga, muncul sebuah biaya?
  7. Analisis Investasi dan Return-nya
    • Apakah setelah dilakukan analisis pemetaan, sudah sepadan dengan tujuan bisnisnya?

Kurang Disukai Tetapi Penting

Beberapa orang mungkin kurang menyukai proses produksi karena terlalu detail, rinci, dan lingkupnya sempit. Tapi, tetap saja ini adalah bagian dari sebuah bisnis. Jika ditinggalkan, tentu saja tinggal tunggu waktu sampai semua proses bisnisnya akan terganggu. Sudah bukan jamannya lagi untuk mengagungkan salah satu bagian proses bisnis. Semua memiliki keterkaitan yang akan saling mendukung proses satu sama lain, jika berjalan dengan baik dan benar.

Menarik untuk Dibagi?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Offer

Peluang Bisnis Barbershop

Bikin Brand-mu Sendiri!

Marketplace Mastery

Bersama Weliyan Tanoyo