IMG_5392

Melalui siaran pers Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional (KPPN) Republik Indonesia, pada 2030-2040, Indonesia diprediksi akan mengalami masa bonus demografi, yakni jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun).

Pada periode tersebut, penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa.

Agar Indonesia dapat memetik manfaat maksimal dari bonus demografi, ketersediaan sumber daya manusia usia produktif yang melimpah harus diimbangi dengan peningkatan kualitas dari sisi pendidikan dan keterampilan, termasuk kaitannya dalam menghadapi keterbukaan pasar tenaga kerja.

Namun, bagaimana bila bonus demografi ini gagal dimaksimalkan? Dua negara ini pernah mengalaminya, dan kita perlu belajar dari peristiwa tersebut.

BRASIL

“Periode bonus demografi di Brasil dimulai awal 1970-an dan berakhir pada 2018 yang lalu”, terang Arief Budimanta, StafSus Presiden Jokowi di Bidang Ekonomi, kepada OkeFinance.

Brazil dianggap “gagal” mempersiapkan diri sejak awal periode bonus demografi dimulai,” kata Arif dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Minggu (16/2/2020).

Resesi ekonomi yang terjadi di Brazil telah banyak mempengaruhi sektor formal, sehingga pemerintah lebih memprioritaskan alokasi sumber daya untuk kebutuhan jaring pengaman sosial dan pensiun.

Hal tersebut mengakibatkan defisit anggaran yang sangat besar sehingga Brasil tidak mampu mengalokasikan sumber daya yang cukup untuk penyediaan akses pendidikan yang berkualitas, infrastruktur, kesehatan dan penyediaan lapangan pekerjaan.

AFRIKA SELATAN

Sedangkan Afrika Selatan, mengalami tingginya angka pengangguran. Adanya ketidaksinambungan tingkat pertumbuhan angkatan kerja dengan pertumbuhan lapangan pekerjaan jadi alasan utama.

Ketidaksinambungan ini akibat adanya skill-mismatch antara apa yang dibutuhkan oleh dunia kerja dengan apa yang bisa ditawarkan oleh pekerja. Mismatch yang ada disebabkan karena kualitas pendidikan yang kurang baik dan kegagalan pemerintah menghubungkan antara kurikulum pendidikan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja.

“Kondisi yang terjadi mengakibatnya sekitar 53% generasi milenial di Afrika Selatan menganggur karena tidak terserap pasar tenaga kerja,” kata Arif kepada OkeFinance.

Karena itu, dalam konteks memanfaatkan momentum bonus demografi, Pemerintah RI mendorong peningkatan produktivitas dan daya saing Sumber Daya Manusia (SDM). Karena peningkatan indeks pembangunan manusia sebesar 1% saja mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 5%.

Menarik untuk Dibagi?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Offer

Peluang Bisnis Barbershop

Bikin Brand-mu Sendiri!

Marketplace Mastery

Bersama Weliyan Tanoyo