pexels-photo-4132538.jpeg

WhatsApp didirikan oleh Jan Koum dan Brian Acton, yang pada awalnya bersama-sama bekerja untuk Yahoo. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana Yahoo Pada akhirnya ‘kalah saing’ dengan Google, yang menjual iklan lebih efisien dan lebih menguntungkan. Dikutip dari Blog WhatsApp, Senin (18/06/2012), Koum menyatakan “Saat ini, perusahaan-perusahaan mengetahui segalanya tentang kalian (penggunanya), teman kalian, ketertarikan kalian, dan mereka menjualnya untuk iklan.”

“Kami ingin menghabiskan waktu kami untuk membangun servis yang tidak hanya ad clearinghouse, kami ingin menghabiskan waktu kami dengan membuat jasa dimana orang-orang ingin menggunakannya karena memang mereka ingin menggunakannya, menghemat uang mereka, dan menjadikan hidup mereka lebih baik lagi,” begitulah pernyataan Koum dikutip dari Blog WhatsApp, Senin (18/06/2012). Koum juga menambahkan, “Ingat, ketika iklan melibatkanmu, kalian para pengguna adalah produknya.”

Pada wawancara eksklusif dengan Brian Acton oleh Forbes, Rabu (26/09/2020), Mark Zuckerberg pertama kali menghubungi Koum via email pada April 2012 untuk ajakan makan siang di Esther’s German Bakery di Los Altos. Setelah saat itu, WhatsApp dan Facebook sempat bertemu untuk membahas berbagai hal di tempat yang berbeda-beda. Mengira-ngira tujuan dari Zuckerberg tidaklah mudah ketika ia menawarkan $19 miliar kepada WhatsApp.

Acton berucap, “Ia menawarkan uang dengan jumlah yang banyak dan membuat tawaran yang tidak dapat kami  tolak.”

silver iphone
Apakah kamu pernah menghapus Facebook karena alasan privasi?
Photo by Thought Catalog on Pexels.com

Akuisisi WhatsApp oleh Facebook resmi di tahun 2014. Pendiri Facebook tersebut juga mengatakan bahwa mereka tidak perlu khawatir soal monetisasi untuk lima tahun kedepan. Ternyata, Facebook menginginkan langkah yang lebih cepat.

Dikutip dari CNBC Indonesia, Kamis (09/01/2020), pada September 2017 lalu, Brian Acton menyatakan dirinya meninggalkan Facebook karena perbedaan pandangan dengan Mark Zuckerberg dan kepemimpinan Facebook soal bagaimana WhatsApp seharusnya menghasilkan uang.

Acton menambahkan, yang dikutip dari CNBC Indonesia, Kamis (09/01/2020) “Di satu sisi, hal tersebut dapat dimengerti. Facebook membayar sekitar $22 miliar untuk aplikasi perpesanan ini, dan ia ingin mendapatkan uang itu kembali. Secara internal, Facebook memiliki target tingkat pendapatan $10 miliar dalam waktu lima tahun monetisasi.”

Keputusan monetisasi WhatsApp oleh Facebook dengan iklan pun telah membuat dua pendirinya, Acton dan Koum, meninggalkan WhatsApp. Keduanya tak sepakat dengan adanya iklan, sedangkan Mark Zuckerberg ingin segera monetisasi ini dilakukan. Acton meninggalkan 12,7 trilyun rupiah sahamnya di Facebook.

Setelah pengunduran diri Acton, kini giliran Jan Koum menyatakan pengunduran dirinya pada Mei 2018. “Sudah hampir satu dekade sejak Brian (Acton) dan saya memulai WhatsApp. Ini adalah perjalanan luar biasa dengan orang-orang terbaik. Tapi sekarang saatnya bagi saya untuk move on.” Tulis Koum di akun Facebook miliknya, dikutip dari Kompas, Selasa (01/05/2018).

black android smartphone
Photo by Alok Sharma on Pexels.com

Diwartakan dari The Independent, Rabu (02/12/2020), Koum tidak memberi alasan spesifik saat meninggalkan WhatsApp. Meskipun begitu, salah satu sumber yang dekat dengan persoalan tersebut mengatakan pada The Washington Post bahwa pengunduran dirinya terkait dengan tensi Facebook dengan persoalan enkripsi end-to-end WhatsApp, yang menjamin pesan tidak dapat dibaca oleh siapapun di luar percakapan, termasuk pihak WhatsApp dan Facebook.

Para eksekutif WhatsApp percaya bahwa keinginan Facebook untuk membuat para pebisnis lebih mudah untuk menggunakan tools bisnis akan membutuhkan pelemahan enkripsi.  “Menghargai privasi pengguna adalah DNA kami, dan kami membuat WhatsApp dengan tujuan untuk mengetahui sesedikit mungkin tentang penggunanya.” Ucap Koum, dikutip dari International Business Times, Rabu (18/03/2014).

Berita ditulis oleh Amalia Fadhila, dirilis oleh Aryo.

Menarik untuk Dibagi?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Offer

Peluang Bisnis Barbershop

Bikin Brand-mu Sendiri!

Marketplace Mastery

Bersama Weliyan Tanoyo