old-tv-commercial from noobpreneur.com

Disclaimer: Topik ini berlaku untuk platform secara umum, baik offline media maupun online media.

Sebelum kita menyalahkan si pelanggan karena “taste”-nya enggak sama dengan kita, coba kita cek diri kita sendiri juga. Kita pasti pernah deh, dipromosiin produk bahkan sama temen sendiri. Kalopun kita nggak tertarik, minimal kita beli karena “kasihan”. Bisa jadi, kan? Tapi kita nggak tertarik gitu, sama penawarannya.

Contoh lain, kapan terakhir kali kamu beli jasa dari brosur yang disebar di jalan raya? Yang kalo berhenti di lampu merah, ada yang ngasih selebaran promo produknya. Atau malah belum pernah?

Kita hanya peduli dengan diri kita sendiri, begitu juga dengan pelanggan. Kita semua sama: kalau nggak ada sesuatu yang berhubungan dengan kita, baik secara ide ataupun selera (padahal butuh!), kita biasanya menolak mentah-mentah.

Termasuk soal kualitas visual: kita beranggapan iklan yang “bagus” adalah cinematic, dramatis, sudut pandangnya mirip-mirip film di bioskop atau iklan-iklan di Thailand yang panjang seperti film pendek. Apakah (calon) target pelanggan kita juga begitu? Tahu dari mana? Kamu perlu riset tentang hal ini. Makanya, sebuah iklan dibenci karena banyak hal. Bukan semata soal kualitas produk visualnya.

Bukti terkuat tidak masalah bagi kita mengiklan dengan kualitas visual yang “tidak baik” itu, adalah ketika perusahaan-perusahaan menggunakan konsep video TikTok dengan kualitas video yang “agak pecah”. Unik, bukan?

Coba lihat iklan ini, yang secara “kualitas” visual bukan yang “terbaik” dengan asumsi seperti di atas:

Sebuah iklan dari Agency Rekreasi. Sumber asli lihat di sini.

Nah, jadi, kualitas visual ternyata subjektif. Lalu, apa yang paling penting dalam sebuah Iklan?

MESSAGE.

Pesan yang kuat, unik, kreatif, dan related, bukankah kita selalu teringat dengan yang demikian? Bukankah kita selalu membicarakan bagaimana sebuah iklan yang bagus ketika kita memahami “apa yang dibicarakan” dalam iklan tersebut?

Message yang kuat lebih sering datang dari single message. Jenis ini selalu menjadi opsi terbaik untuk memudahkan audience mengingat iklan. Ada satu benang merah yang menjadi panduan audience mengingat sebuah pesan.

Message yang unik, kreatif, bukan berarti membuat yang betul-betul baru. Hanya perlu sedikit saja perbedaan konsep dengan iklan yang pernah ada, Iklan tersebut sudah dapat dikatakan kreatif dan punya efek yang berbeda.

Mesage yang related maksudnya pesan dari sebuah iklan harus sesuai dengan audience yang membutuhkan produk kita: Sesuai gaya bahasanya, sesuai kebutuhannya, sesuai demografinya, sesuai dengan hobinya, sesuai dengan gaya hidupnya, dan lain-lain.

Wow, sebanyak itukah kita harus mengerti si calon pelanggan ini? Mengapa tidak kita biarkan “produk berbicara dengan sendirinya”? Kita harus memahami, calon pelanggan itu harus “berkorban” untuk mencoba produkmu. Ya kalo cocok, bagus, akan langsung mengena. Lah, bagaimana kalau nggak bagus? Ya langsung mengena juga. Lebih baik mana: mengena karena bagus, atau mengena karena jelek?

Makanya, penting untuk mempunyai panduan seperti apa sih, sosok pelanggan yang kita targetkan? Dengan cara membuat seorang “karakter khayalan” atau sering disebut sebagai Avatar. Dengan avatar, kita punya sebuah panduan bagaimana iklan, atau penawaran yang sesuai dengan selera dan kualitas mereka. Iklan yang sangat “bagus” menurut kita, belum tentu “bagus” untuk avatar.

Untuk mencari tahu ini memang perlu riset dan trial serta error. Namun, jika sudah ada pihak lain yang melakukannya dan iklannya memiliki target calon pelanggan yang sama, tidak ada salahnya untuk ‘mengcopy’ konsep tersebut selama bukan menjiplak mentah-mentah.

Semoga menginspirasi, dan selamat membuat penawaran terbaik untuk pelanggan terbaik!

Menarik untuk Dibagi?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Offer

Peluang Bisnis Barbershop

Bikin Brand-mu Sendiri!

Marketplace Mastery

Bersama Weliyan Tanoyo