john-cameron-SA3Ny5nAFsY-unsplash

Jujur saja, kalau kamu ditawarin produk fisik, digital, atau jasa dan dilabeli sebagai “berkualitas”, pasti ada sekelebat pertanyaan: “Masa iya?”, “Ya, kalau berkualitas tapi enggak butuh, terus kenapa?”, “Ah, brand yang lain lebih aku percaya. Ini apa sih?”.

Wajar.

Ya, kita percaya setiap orang punya hak mendapat barang berkualitas. Tetapi, kenyataannya orang perlu alasan lebih dari sekadar kualitas. Sebab, ternyata “kualitas” sendiri itu pun menjadi relatif. Ketika semua bilang berkualitas, siapa yang paling dipercayai?

Untuk itu, bisnis perlu terhubung dengan problem audiens, kehidupan mereka, menarik hati sanubari mereka, dan terlibat dengan mereka pada tingkat yang jauh lebih dalam daripada sebelumnya. Jadi, kalau kamu sudah bikin branding kok ditolak, maka pertanyaanya satu: branding kamu relevan atau enggak dengan target market kamu?

Relevan tidak hanya bicara tentang permasalahan yang selesai dengan sebuah solusi, yaitu produk. Tetapi lebih dalam lagi tentang aktivitas bisnis, cara pandang kehidupan, dan aksi nyata di balik slogan dan tagline bisnis, yang konsisten dan relevan dengan konsumen.

Beberapa entitas bisnis sering lupa apakah branding mereka relevan dengan target market atau tidak. Pokoknya, semua adalah calon pelanggan potensial.

Iya, potensial saja hehe…

Contoh relevansi bisnis dengan target audiences:

  1. Coca-cola menargetkan kumpulan keluarga, pertemanan, dan pesta sebagai target konsumen. Maka branding yang dimunculkan adalah bagaimana kehadiran dalam situasi keluarga, pertemanan, dan pesta dengan Coca-cola, tampak dalam corong komunikasi mereka.
  2. Lumin, sebuah brand skincare yang ditargetkan untuk pria, menggambarkan bagaimana amazing-nya seorang perempuan, karena akhirnya ada skincare khusus untuk laki-laki, dan menjelaskan mengapa penting buat perempuan agar kekasih laki-lakinya punya skincare. Dan, ini selalu ditampilkan di hampir setiap saluran komunikasi mereka (karena biasanya skincare itu untuk perempuan).

Menampilkan branding ke market yang tepat adalah salah satu kunci mendapat trust dari konsumen. Relevansi kehadiran bisnisnya ada, dan alasan-alasan untuk menjadi konsumennya juga ada. Kalau sudah menemukan relevansi yang “klik”, tinggal merawat dan menumbuhkannya saja, seperti menepati brand yang dijanjikan, menjaga kualitas produk, atau menjadi yang terdepan untuk konsumennya jika terjadi permasalahan dengan produk.

Menarik untuk Dibagi?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Offer

Peluang Bisnis Barbershop

Bikin Brand-mu Sendiri!

Marketplace Mastery

Bersama Weliyan Tanoyo