WhatsApp Image 2020-10-31 at 11.36.59 AM

Ini kisah yang cukup panjang, kalau kamu lagi gabut dan pengin nyantai, artikel ini cocok buat nemenin kamu.

Saya sudah di platform Twitter sejak 2010, berkembang bersama dinamikanya sampai tahun ini, artinya sudah berjalan 10 tahun. Saya juga pernah banyak terlibat debat-debat yang ‘berwujud kusir’, diskusi ilmu, atau sekadar slengekan. Banyak fenomena menarik yang bermula dari media sosial satu ini, namun ada satu yang menarik untuk saya angkat lagi isunya, yaitu tentang panjat sosial (Social Climber). Apa yang membuatnya menarik?

Well, suatu ketika Instagram betul-betul mulai merajai anak tangga penggunaan media sosial, dan di sisi lain kebutuhan saya untuk mempromosikan bisnis meningkat, saya belajar lebih banyak tentang menumbuhkan halaman media sosial secara organik. Ada banyak sekali cara, sampai saya bingung sendiri karena nggak tahu juga output yang diinginkan apa, hehe.

Salah satu cara yang disarankan adalah “mengikuti cara kerja algoritma Instagram”. Dari pemahaman saya, algoritma yang dimaksud adalah memainkan peran akun bisnis selayaknya akun orang bermedia sosial pada umumnya. Secara spesifik, sesuai dengan “gaya” media sosial tersebut. Gary Vaynerchuk pernah mengunggah suatu analogi sederhana dan general, namun, menurut dia inilah inti dari media sosial: You Get What You Give.

Attention is the new currency” – Gary Vaynerchuk. Terjemahnya, “perhatian” orang, adalah mata uang terbaru. Siapa yang mendapat perhatian paling banyak, dia yang lebih mudah memenangkan pertarungan. Foto: Web Summit HQ Doc.

Analogi ini mirip seperti “karma” tentang kebaikan atau keburukan. Siapa yang menanam, akan menuainya di suatu waktu. Yang menanamnya baik, hasilnya juga baik. Konteks penanaman yang baik tentu saja ada standar, bukan?

Instagram akan menampilkan homepage penggunanya yang paling menarik untuk mereka, berdasarkan aktivitas terbanyaknya. Kalau sering lihat akun yang bahas sepakbola, maka akan lebih sering ditampilkan akun tersebut (jika follow), atau lebih banyak info tentang sepakbola di tab Explore.

Aktivitas yang dinilai instagram tidak hanya melihat, namun juga like, share, save, DM, dan comment. Aktivitas ini sering dimaknai sebagai engagement. Artinya, semakin banyak kita engage dengan akun lain, ada kemungkinan lebih besar bagi Instagram menyesuaikan tampilan homepage kita, berdasarkan aktivitas engage tersebut. Nah, di sinilah hal menarik mulai kelihatan. Secara sederhana, kalau akun kamu bukan bagian dari interest/aktivitas mereka, postingan kamu nggak akan sering ditampilkan.

Pansos itu Marketing: Nggak Usah Malu, Pelajari Dulu

Apakah kamu sering melihat akun-akun yang terlihat “di-setting”, meskipun itu akun personal (dan tentu saja non-personal), yang melancarkan komentar-komentarnya, yang kadang nggak nyambung sama kontennya? Atau, ngomennya cuma kasih emoji, terlalu generik, atau ujung-ujungnya nawarin produk? Atau ijinkan saya terus terang: Akun yang melakukan SPAM comment?

Biasanya kata-katanya terlalu umum kayak gini sih. Ini masih mending karena interestnya sama, jadi terkesan less spammy. Yang parah kalo udah nggak nyambung sama sekali.

Begitu saya menyelam lebih dalam dalam aktivitas engage ini, saya tiba-tiba teringat bagaimana dinamika Twitter di linimasa saya, yang masih mengutamakan tampilan yang chronologic (sesuai jadwal tweet tersebut diunggah). Saat satu akun terkenal mengungkapkan pendapatnya, ada akun lainnya yang nyamber dan seperti mengajak berdebat. Panjang sekali, dan akhirnya akun tersebut mendapat perhatian. Follower bertambah, viewers juga, apalagi haters yang sambil melemparkan sebuah kata: PANSOS LU!

Saya tidak ingat persisnya kapan. Yang saya ingat, pada periode tersebut akun-akun yang saya ikuti banyak mengutarakan pendapatnya tentang akun pansos, siapa yang pansos, dan berupaya mengulik akun tersebut betulan orang atau tim tertentu saja (persoalan fake account ini emang pelik), demi retweet, like, dan jumlah followers bertambah.

Nah, ketika saya geser ke Instagram dan lebih mendalami upaya menumbuhkan akun bisnis saya, rasanya kok mirip dengan akun-akun pansos ini. Saya sendiri sebetulnya nggak ngerti-ngerti amat bagaimana klasifikasi pansos yang dimaksud. Bahkan ada yang bikin ciri-cirinya segala!

Saya melihat kemiripan akun pansos dalam ingatan saya, dengan upaya saya menumbuhkan akun bisnis. Dua-duanya sama-sama mencari perhatian. Mencari perhatian tentu saja bagian dari aktivitas marketing. Kembali lagi dengan analogi dari Pak Gary, you get what you give. Semakin kita memberikan perhatian kepada akun bisnis lain dalam topic interest yang sama, harapannya semakin besar pula akun bisnis kita tumbuh dari akun lainnya dengan topic interest yang juga sama.

Pansos Positif dan Negatif

Russel Brunson, penulis buku DotCom Secret

Russel Brunson dalam bukunya DotCom Secret menjelaskan, salah satu aktivitas marketing yang memang idealnya dilakukan oleh bisnis, baik secara offline maupun online, adalah menawarkan produknya kepada target market yang tepat. Namun, secara psikologis memang orang tidak suka dijuali, tetapi mereka suka membeli. Artinya, tugas bisnis seharusnya “membiarkan” keputusan membeli itu ada di tangan konsumen. So, menawarkan dengan cara paksaan bukanlah hal yang tepat dilakukan. Sekalipun mendapatkan hasil, hasil tersebut tidak akan bertahan lama karena bisnis hanya menaruh perhatian pada pembelian mereka.

Yang bisa dilakukan oleh bisnis, adalah mempengaruhi mereka dengan cara “tidak berjualan”. Bahasa kerennya soft-selling. Cara spam comment ini sebetulnya sudah betul, tetapi karena komentarnya tidak nyambung, tidak menarik, bahkan terkesan tidak peduli dengan environment di mana dia berkomentar, jadinya nggak tepat. Bener ning ora pener. Jadilah akun ini “Pansos Versi Negatif“.

Pansos yang positif gimana? Cara ini sudah bhuanyakkkk dibagikan di media sosial. Namun, satu hal yang sama dari kesemuanya, menurut Pak Gary, adalah berakting sesuai environment-nya. Kamu salah tempat kalau mengunggah single picture di YouTube. Kamu juga salah langkah kalau mengandalkan single-post di Twitter, yang linimasanya terdiri dari kata-kata singkat, cepat, cair, dan masih mengkombinasikan dengan sistem chronological order-nya. Secara umum, kamu juga salah langkah dan salah tempat kalau asal nimbrung di unggahan yang rame, lalu promosi bisnis di situ, berharap ada yang tertarik, kecuali kamu ngelola ads secara serius dan bagus, sehingga, sekali kamu nimbrung, zzzzaaaap, semua mata tertuju pada bisnismu.

Ya ibaratnya kamu di jalan raya, promosi dari pinggir jalan, berharap terjadi penjualan yang banyak. Kenapa? Tujuan orang di jalan raya adalah berkendara, bukan jajan. Sama seperti orang ber-media sosial, tujuan mereka adalah ber-media sosial, bukan belanja. Iya, kan? Mereka adalah cold audience.

Cold, Warm, dan Hot Audience

Mas Auf saat menjelaskan Temperatur Audience, dalam The Ngovi. Lihat di Sini

Kamu bisa melakukan hard selling kepada hot audience. Mereka sudah percaya kamu, kenal kamu, dan bahkan repeat order ke kamu. Mungkin bisa sedikit dilunakkan jika menawarkannya kepada warm audience: mereka ngerti siapa kamu, apa bisnismu, cuman kadang beli kadang enggak. Tapi, kamu betul-betul harus melakukan soft selling jika berhadapan dengan cold audience.

Kamu tahu wajahmu kusam. Lagi naik motor di jalanan, tiba-tiba ada SPG datang dan bilang, “Saya jual pembersih wajah, khusus buat kakak diskon 10% nih”. Produknya nggak kamu kenal, kamu nggak tahu SPG-nya siapa, dan kamu lagi buru-buru di jalanan. Kamu tahu kamu butuh, tapi, apakah kamu langsung tertarik? Enggak kan? Di mana bisa kamu letakkan trust kepada SPG tersebut? Kamu adalah cold audience.

Kasusnya mungkin agak berbeda, kalau di jalanan kamu lihat SPG tersebut menampilkan suatu plakat, dan membicarakan betapa sedihnya mempunyai wajah kusam, disertai nomor yang bisa dihubungi, atau bahkan konsultasi langsung di tempat. Dan itu adalah masalah yang kamu banget! Mungkin saja, kamu mulai muncul ketertarikan. Minimal pas sampai rumah, bakal ngecek apa merk yang ditawarkan SPG tersebut.

Situasi ini sama dengan pansos salah alamat yang dipraktikkan banyak akun bisnis di media sosial. Kontennya tentang makanan, komentarnya “Ya ampun, bayinya lucu banget bun. Kita punya koleksi baju lucu buat bayi bunda nih”.

Itu betulan pengalaman saya. Saya tahu memang saat bayi wajah saya cukup menggemaskan, tapi itu sudah lama sekali. Bajunya juga tidak akan cukup. Saya hapuslah komentar tersebut.

Tools supaya Pansos Lebih Terencana dan Tepat Sasaran

Creative Marketing Tools

Merencanakan adalah kegiatan yang sesuai dengan adagium “mundur selangkah, untuk melompat lebih jauh”. Tidak masalah memberi waktu lebih banyak untuk mempelajari dan merencanakan, supaya saat persiapan dan eksekusinya berjalan dengan lancar, matang, dan berdampak sesuai tujuan marketing. Kamu bisa cek video part 1 dan part 2 ini untuk belajar lebih dalam tentang sebuah alat marketing bernama “Creative Marketing Tools“. Alat tersebut juga dibagikan gratis, linknya ada dalam deskripsi video. Jadi kamu bisa mengikuti penjelasan strateginya sambil pegang toolsnya.

Kamu akan tahu bahwa endorse bukan satu-satunya jalan untuk mempromosikan produkmu. Bahkan, endorse bukanlah kegiatan tunggal dalam marketing. Kamu juga akan tahu, tujuan marketing itu berbeda-beda dan dari perbedaan tersebut tentu memiliki penanganan yang berbeda. Kamu akan lebih tercerahkan bahwa kegiatan marketing itu beragam.

Jadi, berbasis tools tersebut, berpansoslah dengan cara yang lebih baik dan lebih keren. Nggak usah malu, karena pansos adalah bagian dari marketing! Viva la Pansos!

Menarik untuk Dibagi?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Offer

Peluang Bisnis Barbershop

Bikin Brand-mu Sendiri!

Marketplace Mastery

Bersama Weliyan Tanoyo