bruce-mars-8YG31Xn4dSw-unsplash

Banyak orang menyangka setelah membaca bukunya Rich Dad Poor Dad-nya Robert T. Kiyosaki maka cara paling benar untuk kaya adalah dengan berada di kuadran Bisnis maupun Investor. Padahal belum tentu lho.

Coba bandingkan kuadran Employee dengan kuadran Bisnis berikut ini: yang satu adalah Employee di Unilever misalnya, jabatannya adalah CEO dengan gaji 150 juta rupiah. Yang satu adalah pengusaha bakmi jawa, cabangnya cuma 1, yang masak dia sendiri juga, setiap hari laku 10 porsi aja dengan harga jual bakmi jawanya 15ribu rupiah per porsi. 

Pengusaha yang berada di kuadran B omsetnya 3,9 juta karena setiap Senin dia libur. Kalau omset 3,9juta katakanlah labanya 20% berarti pendapatan dia sebulan 780ribu. Dibulan yang sama, si pengusaha habis labanya untuk hidup dia sehari-hari, sedangkan si CEO setiap 3 bulan membuka 1 indomaret misalnya.

Berarti kalau kondisinya seperti itu siapa yang dalam 1 tahun bias lebih kaya? Kalau tidak ada factor X secara matematika Kita bias bilang si CEO yang berada di kuadran E akan menjadi lebih kaya daripada si pengusaha yang berada di kuadran B. Lebih cepat bahkan.

Jadi, menjadi orang di kuadran B belum tentu adalah cara paling benar untuk menjadi kaya. Kecuali, Kamu juga menguasai suatu ilmu tingkat tinggi yang bias menjadi senjata pamungkas, yaitu ilmu NEGOSIASI.

Dengan Ilmu negosiasi ini Kamu bias mendapatkan apapun yang Kamu inginkan. Dengan ilmu negosiasi ini Kamu bias merubah satu buah paperclip warna merah menjadi sebuah rumah (Baca kisahnya di one red paperclip-nya Kyle MacDonald dan nanti Kita coba latihan gamesnya ini ya). Dengan ilmu negosiasi Kamu bias mendapatkan saham sebuah perusahaan yang usianya sudah 15 tahun dan sudah profit jadi Kamu nggak perlu repot bangun usaha dari awal yak an?

Kali ini, Saya akan mengajak Anda belajar ilmu negosiasi ini. Beberapa ilmu ini disarikan dari buku karya Roger Dawson dan dibahasakan ulang ala The Pengusaha. Yuk cuss langsung Kita kupas.

Untuk awal Kamu harus tahu dulu Prinsip-prinsip negosiasi. Negosiasi ini adalah suatu seni yang BUKAN membuat Kita menang saja. BUKAN agar terjadi WIN-WIN SOLUTIONS. Akan tetapi ilmu negosiasi ini adalah ilmu YANG MEMBUAT ORANG LAIN MERASA MENANG dan SENANG bernegosiasi dengan Kita tetapi tetap KITA YANG MENANG.

Prinsip pertama: MINTALAH LEBIH DARI YANG ANDA HARAPKAN

Ada kaidah dalam ilmu NLP bahwa the Map is not the Territory (ini akan Kita bahas lain waktu) yang intinya adalah orang lain itu sebenarnya TIDAK TAHU KEMAMPUAN / KONDISI Kita & juga sebaliknya. Sehingga jangan takut untuk meminta lebih dari yang Kita harapkan. Saya sering membuat game negosiasi ini dalam pelatihan inhouse di beberapa perusahaan maupun di kelas dan hasilnya lucu-lucu setelah masing-masing peserta saling membaca maps lawan negosiasinya.

Langsung saya beri contoh, semisal Kita sedang ingin beli rumah dari pak James. Kita tidak tahu berapa sebenarnya BATAS BAWAH-nya pak James dalam menjual rumah. Oleh karena itu Kita juga harus membuat TARGET terlebih dahulu. Jika Kita tahu pasaran rumah di sekitar rumah pak James itu 1M misalnya. Kita punya target bias deal di angka 900 juta. Nah Kita jangan MINTA / MENAWAR di angka 900 juta langsung. Tapi Kita bias tawar di angka 700 juta misalnya. Kita tidak tahu berapa BATAS BAWAH-nya pak James. Jadi missal ternyata batas bawahnya pak James itu di 850 juta, tentu Kita lebih untung 50 juta karena sudah menawar di 700 juta. Prinsip pertama.

Prinsip kedua: JANGAN PERNAH KATAKAN YA TERHADAP TAWARAN PERTAMA

Alasan mengapa Kita tak harus mengatakan ya terhadap tawaran pertama adalah karena kata ya bias secara otomatis memicu munculnya 2 pendapat dalam benak pihak lawan negosiasi.

Misal pak James tadi sedang ingin jual mobilnya juga seharga 100 juta. Menurut Kita itu murah banget untuk mobil pak James yang masih sangat bagus sehingga Kita tidak sabar untuk langsung membelinya begitu saja sebelum orang lain mendahului membeli. Kenapa demikian? Karena Kita tidak tahu BATAS BAWAH pak James sekali lagi. Batas bawah ini bukan harga mobilnya tetapi UANG YANG SEBENARNYA PAK JAMES BUTUHKAN. Bisa jadi sebenarnya pak James cuma butuh 50 juta. Kan lumayan tuh. Atau mungkin cuma butuh 80 juta karena harus segera melunasi hutangnya ditempat lain atau karena harus segera membayar biaya pengobatan ibunya.

Anda bias coba lemparkan kalimat seperti ini “ Ini bukan mobil yang saya mau sebenarnya, tapi kalau pak James lepas di harga 80 juta Saya akan membelinya.” Atau bias juga “Saya sebenarnya sedang tidak ingin membeli mobil pak James, tapi kalau pak James lepas di harga 80 juta, mungkin akan Saya pertimbangkan untuk membelinya.” Prinsip ini harus dipegang karena terkadang Kita secara alamiah akan merasa “Seharusnya Saya masih bias menawar lebih murah lagi” berapapun angka yang ditawarkan.

Prinsip ketiga: MELAKUKAN FLINCH TERHADAP PENAWARAN LAWAN NEGOSIASI

Apa itu flinch? Flinch adalah menampakkan reaksi KAGET atau TERKEJUT terhadap penawaran lawan negosiasi. Pernah suatu kali ketika salah seorang bagian finance bernegosiasi untuk placement iklan Koran untuk sebuah apartemen. Dia bertanya paket iklan Koran dalam 1 tahun. Dan keluar angka waktu itu 150 juta rupiah. Reaksi seketika adalah “HAH?! 150 juta? Harga segitu Saya bias beli rumah mas!” dengan nada kaget. Dalam hitungan menit harga itu turun hingga 90 juta saja.

Bayangkan betapa powerfull nya tehnik ini karena bias mengurangi biaya 60 juta dalam hitungan menit. Padahal kalau Kita perhatikan lagi kalimatnya, dia tidak bilang mahal ataupun menawar. Dia hanya bilanga ‘Harga segitu Saya bias beli rumah.”

Oke, itu dulu pembahasan mengenai negosiasi ya. Masih part 1. Tunggu artikel selanjutnya ya. Dan ohya, ini ada prakteknya. Teman-teman bias klik artikel tentang one red paperclip & coba praktekkan dengan main gamesnya. Selamat mencoba!

Menarik untuk Dibagi?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Offer

Peluang Bisnis Barbershop

Bikin Brand-mu Sendiri!

Marketplace Mastery

Bersama Weliyan Tanoyo