mehrad-vosoughi-iUQmEFtfdLw-unsplash

Mantan CEO (Chief Executive Officer_red) perusahaan Telco Multinational pernah mengibaratkan peran Owner atau CEO sebagai seorang pengemudi. Owner atau CEO akan memegang kendali penuh terhadap perusahaan serta menjadi seorang pemimpin yang akan bertanggung jawab atas kegagalan atau kesuksesan perusahaannya. Seorang owner harus tahu kapan saat harus mengambil jalan lurus untuk mengeksekusi sebuah strategi bisnis, kapan harus memilih arah ke kanan atau ke kiri sembari melihat apa yang customer inginkan, ataupun apa yang competitor lakukan, serta kapan pula harus tancap gas untuk menjalankan strategi atau kapan harus mengerem laju perusahaan.

Dari penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan terkait kompetensi apa saja yang dibutuhkan oleh seorang owner atau CEO perusahaan:

  1. Mengetahui Tujuan atau Goals Perusahaan
    Sebagai seorang pemimpin dalam sebuah perusahaan maka CEO harus mengetahui kondisi serta arah jalan yang akan ditempuh perusahaannya. Apakah dalam perjalanannya perusahaan akan melalui jalan yang lurus, atau jalan yang berlubang dengan tanjakan dan turunan, atau bahkan harus melalui jalan yang berkelok-kelok dan disertai tikungan tajam. Artinya seorang CEO harus mengetahui mulai dari visi dan misi perusahaan kondisi lingkungan yang strategis, peta jalan, serta target-target mulai dari jangka pendek, menengah maupun Panjang dari perusahaan.
  2. Mengetahui Kondisi Vitalitas Perusahaan
    Seorang CEO juga perlu mengetahui kondisi vitalitas perusahaannya, yang dapat diartikan sebagai kualitas serta kuantitas dari sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan. Kualitas serta kuantitas sumber daya yang dimaksud adalah mulai dari sumber daya manusia (SDM), bahan/material, keuangan, metode, management tools, mesin operasi, budaya perusahaan, dan rambu-rambu atau perusahaan yang ada di perusahaan. CEO perlu memastikan kondisi sumber daya tersebut sudah dapat berfungsi seperti sebagaimana mestinya. Dengan demikian tidak akan terjadi masalah ketika perusahaan mulai berjalan, baik ketika berjalan di jalan lurus, berlubang atau pun tikungan tajam.
  3. Mengetahui Kondisi dan Kemampuan Diri Sendiri
    Setelah memastikan kondisi perusahaan faktor penting berikutnya yang harus dimiliki oleh seorang CEO adalah mengetahui kondisi serta kemampuan diri sendiri untuk mengelola perusahaan. Artinya apakah sebagai seorang CEO sudah memiliki ‘nyali’ dan kualifikasi sebagai seorang pemimpin perusahaan. Kualifikasi sebagai seorang pemimpin perusahaan tentu memiliki sejumlah persyaratan kompetensi dan jam terbang yang memadai, sehingga layak dan dapat dipercaya untuk memimpin suatu perusahaan dan orang banyak.
    Akan tetapi pertanyaannya adalah, adakah sekolah khusus menjadi seorang pemimpin perusahaan? Atau haruskah mendirikan perusahaan terlebih dahulu baru belajar untuk memimpin? Ataukah harus bekerja dan belajar dulu di perusahaan lain lalu secara otodidak belajar dari pemimpin di perusahaan tempat bekerja, lalu jika telah dipercaya dan melihat kita mampu menjadi seorang pemimpin dengan baik baru mulai mendirikan perusahaan sendiri? Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut penting sebagai seorang CEO untuk mengetahui batas kemampuan diri sendiri dalam pemimpin perusahaan.
  4. Memiliki Kemampuan untuk Mengelola Tim
    Setelah mengetahui kondisi serta kemampuan diri sendiri, seorang CEO juga perlu memiliki kemampuan untuk mengelola tim yang dimilikinya. Sebagai seorang pemimpin, CEO perlu mengelola tim yang dimiliki dengan baik dan menyenangkan, karena dalam suatu perusahaan tidak akan bisa bekerja secara sendiri-sendiri, melainkan butuh tim yang saling bekerja sama dan bersinergi satu sama lain. Dengan demikian setiap perusahaan akan membutuhkan tim-tim untuk mengelola keuangan, memproduksi barang, memasarkan produk serta mengelola sumber daya manusia di perusahaan. Semua itu dibutuhkan agar kondisi perusahaan bisa menyesuaikan kondisi jalan dan karakter dari pemimpin. Semua pendukung keberhasilan sang pemimpin dapat disebut supporting system.
    Lalu pertanyaannya bisakah sang supporter naik kelas menjadi seorang pemimpin? Bukankah seorang supporter juga memahami kondisi perusahaan secara umum meskipun belum pernah memimpinnya? Tinggal satu langkah lagi atau test drive, yang berarti ‘kesempatan’ untuk menjadi seorang pemimpin itu sendiri. Dari asumsi tersebut maka kata kuncinya adalah keberanian untuk ‘menemukan, dan ‘mengambil’ bahkan ‘merebut’ kesempatan yang ada. Bukan lagi soal kemampuan teknikal atau seberapa banyak hard competencies yang dimiliki oleh seorang pemimpin.

Menarik untuk Dibagi?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Offer

Peluang Bisnis Barbershop

Bikin Brand-mu Sendiri!

Marketplace Mastery

Bersama Weliyan Tanoyo