omid-armin-8Nppe0yLmn8-unsplash

Apakah Hakikat bisnis itu? Apakah sekedar bisa bertahan dan berkelanjutan, lentur dan fleksibel atau bisnis yang hanya untuk mencari keuntungan (profit)? Ataukah bisnis untuk memberikan manfaat bagi orang banyak?

Bisnis apapun seharusnya memiliki peran dan tanggung jawab kepada masyarakat yang luas, bukan hanya kepada pelanggan (customers) tetapi juga kepada semua pemangku kepentingan (stakeholders). Filosofinya membangun usaha atau bisnis haruslah untuk melayani masyarakat, bangsa dan negara, dalam rangka mewujudkan kondisi masyarakat yang sejahtera dan bahagia. Dengan demikian hakikat bisnis adalah mengola manusia dengan segala kebutuhan dan keinginannya. 

Di sisi lain hakikat manusia adalah pribadi yang unik, tidak bersifat ‘atomik’ dan ‘terisolasi’ dari lingkungan sosialnya. Selain dimensi fisik-biologis, manusia juga memiliki dimensi rsional (intelektual), psikologis, sosial, emosional dan spiritual. Manusia juga memiliki multiperan, yaitu: peran sebagai individu yang bebas (otonom); peran sebagai bagian dari tim kerja (working team); dan peran sebagai anggota organisasi; serta peran sebagai anggota masyarakat, bangsa dan negara.

Dalam konteks kerja manusia dapat berperan sebagai makhluk pemberi kerja (employer) maupun sebagai penerima kerja/ pekerja (employee). Kemudian dalam menjalankan bisnis atau sebuah perusahaan kita sering mendengar bahwa SDM merupakan asset yang paling penting bagi organisasi atau perusahaan, tetapi bagaimana manajemen memperlakukan ‘aset terpenting’ itu seringkali tidak sejalan dengan apa yang sering diucapkan. 

Masih ada sebagian perusahaan yang memperlakukan karyawan tidak lebih dari sekedar ‘mesin’, ‘benda’, ‘nomor’, atau ‘komoditas’ yang bisa ditukar tambah seenaknya ketika perilaku mereka tidak sesuai dengan apa yang diinginkan pimpinan perusahaan. Bahkan seringkali manajemen organisasi menempatkan mesin-mesin dan peralatan produksi lainnya lebih ‘bernilai’ ketimbang manusia itu sendiri. Padahal sejatinya tidak ada benda yang lebih bernilai dari pada manusia sebagai ciptaan Tuhan YME.

Akan tetapi sepertinya masih banyak pemimpin perusahaan yang menyadari dan memperhatikan hal tersebut. Mereka lebih suka memperbincangkan numbers and figures, sales, revenue, business expansion, dan tentu saja bottom line. Hal ini dikarenakan hakikat eksistensi dan keberlanjutan suatu organisasi adalah memenangkan persaingan. Dengan demikian organisasi atau perusahaan memerlukan modal dalam rangka menghasilkan suatu output dan outcome (business result) yang menjamin organisasi atau perusahaan beroperasi dalam jangka Panjang/berkelanjutan serta memiliki kualitas SDM yang produktif, sejahtera dan Bahagia lahir dan batin. 

  1. Modal arah strategis (strategic direction capital)

Menjelaskan bagaimana pentingnya keberadaan filosofi organisasi dan nilai-nilai bersama  (philosophie dan shared values), pentingnya visi dan misi yang diterjemahkan dalam business objective dan target, serta bagaimana strategi utama untuk mewujudkannya (strategic intent). Peran arah organisasi strategis sangan menentukan dalam membangun sebuah organisasi.

  1. Modal organisasional (organizational capital)

Membahas mengenai pentingnya leadership and management style, organizational/corporate culture, infrastructure and management technology, knowledge serta data and informational management.

  1. Modal manusia (human capital)

Menjelaskan mengenai empat level kompetensi SDM dalam organisasi, yaitu: individual competence, teamship competence, organizational competence, dan social and environmental competence yang perlu dimiliki oleh organisasi atau perusahaan bila ingin berkelanjutan dalam jangka panjang.

Ketiga modal tersebut sangat penting dimiliki oleh semua jenis organisasi apalagi korporasi dalam rangka mencapai sustainable business result yang excellence dan SDM yang sejahtera dan bahagia.

Menarik untuk Dibagi?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Offer

Peluang Bisnis Barbershop

Bikin Brand-mu Sendiri!

Marketplace Mastery

Bersama Weliyan Tanoyo